Sabtu, 24 Oktober 2015

Nasionalisme dalam Pelestarian Budaya

Post kedua kali ini saya akan membahas mengenai nasionalisme khususnya bagi remaja. Pada zaman globalisasi-di mana pengaruh budaya luar dengan mudahnya bebas masuk ke negara Indonesia, dapat membuat kebudayaan kita tergerus dan terlupakan jika kita tidak menanamkan sikap nasionalisme. 



Arus globalisasi yang makin deras membawa dampak yang cukup besar di berbagai segi kehidupan mulai dari hukum, ekonomi, sosial dan budaya. Globalisasi dalam hal budaya mengubah cara pandang sekelompok manusia maupun individu tentang pola berperilaku, pola berpakaian, pola kerja dan sebagainya. Perubahan tersebut telah dialami oleh masyarakat Indonesia yang dapat dilihat di kehidupan sehari-hari. Globalisasi budaya ini berupa budaya asing juga modern.

 
Perubahan sosial dan perilaku misalnya, masyarakat Indonesia kebanyakan sudah mengenal smartphone. Penggunaan smartphone membuat orang-orang lebih mudah menjalin komunikasi dari jarak jauh melalui media sosial seperti Facebook, Twitter, Snapchat, Kik dan lain-lain. Orang-orang ini akan menjadi sosok individual yang tidak peduli terhadap orang-orang di sekitarnya,
 Dalam catatan The Wall Street Journal, jumlah pengguna Facebook di Indonesia sampai dengan bulan Juni 2014 sudah mencapai angka 69 juta anggota. Jumlah tersebut tentu saja sudah bertambah hingga Maret 2015 ini. (dikutip dari Jumlah pengguna Facebook dan Twitter di Indonesia
Perubahan pola berpakaian dipengaruhi oleh westernisasi atau budaya barat. Budaya barat sangat kental dengan sifat kebebasannya. Celakanya budaya ini berdampak negatif, cenderung merusak dan melanggar norma-norma ketimuran kita sehingga ditiru oleh para generasi muda yang menginginkan kebebasan. Pola berpakaian remaja sekarang sangat berbeda dengan zaman dahulu yang lebih sopan dan tertutup. Kita sering mendapati mereka berpakaian terbuka, minim dan ketat yang menampilkan bagian tubuh tertentu. Belum lagi pengaruh pergaulannya yang mengkhawatirkan di mana seks bebas, obat-obatan terlarang hingga aborsi dialami oleh beberapa generasi muda yang seharusnya masa depannya masih panjang. Penggunaan bahasa Inggris bagi anak-anak muda adalah suatu kebanggaan tersendiri karena dianggap lebih keren dan terkesan internasional. Bahkan ada orangtua yang mengajarkan anaknya bahasa Inggris lebih dulu daripada bahasa Indonesia. Akibatnya anak itu tidak paham bahasa nasionalnya sendiri. Miris kan?

Padahal seperti yang kita tahu, negara Indonesia sebagai negara dengan adat ketimuran sangat menjunjung tinggi budaya gotong royong, kekeluargaan, dan terkenal dengan keramahannya. Budaya kesopanan tidak luput dari masyarakat--cara berpakaian harus tertutup, rapi dan sopan. Cara berbicara yang sopan, tidak terlalu lantang, memanggil orang yang lebih tua menggunakan panggilan tertentu tidak seperti di negara barat yang langsung memanggil namanya. Di Jawa sendiri ada tingkatan-tingkatan bahasa yaitu ngoko, ngoko inggil dan krama mempunyai fungsi tertentu, seperti bahasa jawa krama yang digunakan untuk berbicara anak muda kepada yang lebih tua. Sedangkan bahasa jawa ngoko untuk sebaliknya.

Ada pula budaya modern yang meluas melalui acara-acara tv, drama, film, musik dan mode. Budaya modern mudah diterima oleh masyarakat, khususnya para kawula muda karena dianggap lebih kekinian, populer dan trend tidak bisa dilewatkan begitu saja. Kita ambil contoh yang sedang marak yaitu Hallyu atau Korean Wave. Hallyu ini merupakan budaya pop-modern Korea yang menyebar secara global di berbagai dunia salah satunya Indonesia.
Penyebaran budaya Korea ini dimulai sejak munculnya drama Endless Love di salah satu stasiun tv, puncaknya serial drama Winter Sonata diputar di Jepang, Taiwan dan Asia Tenggara. Kemudian saluran-saluran tv saling berlomba menayangkan drama negeri Gingseng ini sebagai hiburan anak muda.




Tidak hanya drama, musik K-Pop pun bersaing dengan musisi dalam negeri. Musik K-Pop kebanyakan adalah boyband dan girlband yang anggotanya berparas cantik dan ganteng, pandai bernyanyi dan lincah menari sangat digilai muda mudi. Sebut saja Girls' Generation, Super Junior, EXO dan lain sebagainya. K-Wave tersebut membuat para muda-mudi tertarik mempelajari bahasa Korea dan kebudayaan lainnya. Sama halnya dengan budaya India dan Turki yang sedang trend akhir-akhir ini.
 
Tradisi dan budaya asli setempat diwariskan secara turun temurun oleh nenek moyang agar kita melestarikannya. Namun perlahan seiring berjalannya waktu tradisi ini mulai luntur tergantikan oleh budaya yang lebih modern. Para remaja pun tidak meminati bahkan melupakan budaya asli tradisionalnya. Maka, lama-kelamaan budaya asing yang dibiarkan begitu saja akan menghilangkan ciri khas Indonesia, menghilangkan identitas Indonesia sebagai negara yang berbudaya dengan suku, bahasa dan budaya daerah yang beragam. Saya pernah mengalami waktu hari pertama menjadi anak SMA, tepat tanggal 17 Agustus 2012 tepat di hari kemerdekaan Indonesia diadakan upacara bendera di dekat Stadion Sriwedari. Di sana sudah ada beberapa orang yang berbaris sesuai format upacara. Ada paskibra, satuan keamanan hansip dan beberapa orang yang berpakaian adat jawa. Belum satu jam berjalan, teman-teman dari SMA lain sudah banyak yang keluar lapangan. Padahal peserta upacaranya enak tinggal duduk saja sambil melihat upacara.
BANDAR LAMPUNG (Lampost.co): Minat generasi muda terhadap kebudayaan asli terus menurun. Salah satu indikatornya adalah terbatasnya pengetahuan tentang tari daerah. Tidak hanya itu, minat generasi muda, terutama kalangan remaja pria dalam mempelajari tari daerah juga sangat minim.

Pemilik Sanggar Tari Sasana Budaya Ahmad Afandi mengatakan kaum remaja lebih tertarik suguhan budaya dari luar, seperti lagu barat, break dance, dan Korean style. "Coba kita survei di beberapa SMA, berapa siswa yang tahu asal tari rantak?" kata Andi, sapaan akrabnya.

Dia juga mengatakan banyak remaja yang menganggap bahwa mempelajari budaya tradisional itu kuno, bahkan memalukan. Padahal, kenyataannya tidak seperti itu. Banyak nilai penting yang terkandung di dalamnya, seperti nilai historis dan estetika.

Derasnya arus globalisasi merupakan salah satu pendorong tingginya minat generasi muda pada budaya luar. Namun, dia mengatakan tidak tepat jika globalisasi menjadi pihak yang paling disalahkan atas terjadinya degradasi kebudayaan di kalangan remaja. Justru hal itu harus menjadi tantangan bagi semua pihak agar makin peduli dan menyosialisasikan kebudayaan asli Indonesia bagi anak-anak dan generasi muda. (dikutip dari Lampost, 07 Agustus 2013)

Untuk itu kita perlu menanamkan sikap nasionalisme. Sebenarnya apa itu nasionalisme?

Nasionalisme berasal dari bahasa Inggris 'nation' yang artinya bangsa. Definisi dari bangsa sendiri adalah sekelompok manusia yang mendiami suatu daerah tertentu dan memiliki hasrat kemauan untuk bersatu karena adanya persamaan nasib, cita-cita, kepentingan dan tujuan.
Nasionalisme dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia:
na·si·o·na·lis·me n 1 paham (ajaran) untuk mencintai bangsa dan negara sendiri; sifat kenasionalan: -- makin menjiwai bangsa Indonesia; 2 kesadaran keanggotaan di suatu bangsa yang secara potensial atau aktual bersama-sama mencapai, mempertahankan, dan mengabdikan identitas, integritas, kemakmuran, dan kekuatan bangsa itu; semangat kebangsaan
image source: here
Sedangkan, nasionalisme menurut tokoh:
"Nasionalisme adalah pilar kekuatan bangsa-bangsa yang terjajah untuk memperoleh kemerdekaan." -Ir. Soekarno
"Nasionalisme adalah keseimbangan antara rasa nasional terhadap bangsa dengan kekuasaan berpolitik." -Ernest Gellenervia
Singkatnya nasionalisme itu sikap bangga dan cinta terhadap bangsa dan negara beserta kebudayaan dan tradisinya. Menanamkan sikap tersebut perlu ditanamkan sejak dini. Hal ini dapat dimulai dari diri sendiri dengan bersikap khidmat saat mengikuti upacara daerah, mengikuti ekstrakulikuler tarian di sekolah dan mempelajari bahasa daerah.

Dari keluarga, orang tua harus menjadi teladan mencintai budaya tradisi daerahnya dengan begitu anak pun akan menirunya dengan senang hati. Setiap ada kesempatan liburan, ajaklah anak rekreasi budaya keluarga di museum, ajak ke tempat pergelaran seni daerah dan membiasakan anak berbahasa daerah di rumah.

Peran pemerintah juga sangat penting dalam menumbuhkan nasionalisme dengan cara memberlakukan bela negara atau wajib militer untuk anak muda berusia 17 tahun ke atas diwajibkan ikut, menganjurkan untuk menggunakan atau membeli barang-barang buatan dalam negeri, membatasi penggunaan produk impor, pemerintah daerah mewajibkan para PNS mengenakan baju batik setiap hari Jumat dan memperingati hari-hari besar nasional tidak hanya sebagai seremonial saja tapi juga sebagai menanamkan sikap nasionalisme. Selain itu perlu diadakan pergelaran budaya setiap tahunnya agar masyarakat lebih mencintai dan mengenal budayanya.
    NET – "Pemuda saat ini tidak lagi punya rasa nasionalisme gara-gara tidak bisa menahan arus globalisasi. Untuk itu, diperlukan pemahaman kembali nilai luhur bangsa dari Pancasila, UUD 45, Bhineka Tunggal Ika, agar kebangsaan mereka bisa bangkit kembali," tutur Ketua DPD KNPI Kota Tangerang, Ibrohim, Sabtu (22/8/2015.
    Ibrohim mengatakan derasnya arus globalisasi yang ada saat sekarang ini, tanpa disadari dapat menggeser nilai-nilai bangsa, bernegara, dan bermasyarakat. Bahkan  membuat degradasi nilai moral, etika, patriotisme, semangat kesatuan, dan persatuan di antara generasi muda tersebut.
    Boim, sapaan akrab Ibrohim menambahkan ke depan  Pemuda Kota Tangerang berperan sebagai kontrol sosial, baik dalam pembangunan atau pemerintahan dengan mempersiapkan diri mematangkan ilmu pengetahuan, ketahanan pribadi, untuk bersaing dengan bangsa lain. (dikutip dari Tangerang NET, 22 Agustus 2015)
    Sebagai remaja calon penerus bangsa, jangan sampai kita melupakan identitas kita sebagai orang Indonesia yang berbudaya dengan nilai dan norma yang dijunjung tinggi. Dengan suku, budaya dan bahasa daerahnya yang beragam. Jangan sampai ketika budaya tradisi kita kena klaim oleh negara lain, kita baru bertindak dan berkoar-koar. Sedangkan menjaga dan mempelajarinya pun enggan, lebih memilih budaya modern. Dengan kita mempelajari budaya tradisi kita, Indonesia akan lebih dikenal di mancanegara bahkan akan disegani oleh bangsa lain. 

    Berita 1:
    REPUBLIKA.CO.ID, MAGELANG -- Sebanyak tujuh siswa dengan dua guru pendamping "Silangsa Small School", Namwon, Korea Selatan, belajar tentang kebudayaan dan kehidupan masyarakat di kawasan Gunung Merapi, Dusun Gejayan, Desa Banyusidi, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Mereka menjalani program itu selama 20 hari mulai 1-20 Agustus 2015). Sebanyak tujuh siswa dan dua orang guru mengikuti program ini.

    Pimpinan Padepokan 'Warga Budaya' Dusun Gejayan, Desa Banyusidi, Kecamatan Pakis, Kabupaten Magelang, Riyadi mengatakan kedatangan 'tamu' dari Korea ini juga menjadi kesempatan untuk belajar tentang budaya Korea Selatan supaya dapat memperkaya wawasan pengetahuan dan pengalaman. Mereka, katanya, akan dibagi dalam tiga kelompok dan tinggal di sejumlah rumah warga kawasan Gunung Merbabu. (dikutip dari Republika Online [28 Juli 2015])
    Berita 2:
    JAKARTA – Jumlah mahasiswa asing yang belajar mengenai kebudayaan di Indonesia mengalami lonjakan tajam. Melalui program Darmasiswa, setidaknya 750 mahasiswa dari 73 negara menimba ilmu mengenai budaya, bahasa, dan kerajinan tangan di beberapa universitas. Jumlah tersebut meningkat dari tahun sebelumnya yang hanya 623 orang dari 65 negara.
    Sekjen Kementerian Pendidikan Nasional Ainun Naim mengatakan, lamaran mahasiswa yang ingin kuliah di Indonesia mencapai 1.800 orang. Tapi hanya 750 yang lulus seleksi. Diharapkan 2012, ada 1.000 yang datang.

    "Ini soft diplomacy untuk memperkenalkan Indonesia tentang kehidupan demokrasi, multicultural, juga merespon pemahaman yang bisa salah mengenai Indonesia," ujar Ainun di Jakarta. (dikutip dari JPNN [26 September 2011])
    Berita 3:
    AUCKLAND, KOMPAS – Pluralitas dalam tradisi Indonesia tampak jelas dalam Auckland Indonesia Festival 2015 di Raye Freedman Art Centre, Auckland, Selandia Baru, Sabtu (28/3). Tari-tarian dari berbagai daerah seperti Saman, Tari Piring, Tari Topeng, Nandak, Merak, dan Pendet memeriahkan festival yang diselenggarakan untuk kelima kalinya.
     
    Pengunjung festival pun menikmati pertunjukan seni tradisi Indonesia. Untuk mengakomodir pengunjung untuk menonton seni tradisional Indonesia, semua penampilan dilangsungkan dalam dua sesi.
     
    Seni tradisional Indonesia tampak beragam mulai dari budaya Aceh dengan Tari Saman, budaya Minang dengan Tari Piring dan Indang, budaya Jawa Barat dengan Tari Jaipong dan ensemble angklung, sampai budaya Bali dengan Tari Pendet. Salah seorang pengunjung asal Italia, Livia, menikmati pertunjukan seni Indonesia.(dikutip dari Kompas, 30 Maret 2015)
    Ketika orang asing mempelajari budaya kita, boleh saja bangga tapi kita seharusnya malu. Orang asing dari luar negeri saja jauh-jauh mau mempelajari budaya kita, masa' kita yang warga negara dan orang yang diwarisi budaya malah tidak mau mempelajarinya? Jika budaya kita dipelajari oleh negara lain akan menjadi suatu ancaman buat kita lho!

    Menggemari budaya modern itu boleh, tapi jangan lupa dengan budaya kita sendiri. 

    Kalau bukan kita, siapa lagi? AYO LESTARIKAN BUDAYA KITA!

    Tidak ada komentar:

    Posting Komentar