Kekuatan merupakan salah satu unsur dalam hubungan internasional yang tidak dapat diukur dengan jelas dan pasti. Kekuatan adalah hasil pemikiran berdasarkan kajian empiris antarnegara untuk mengadakan hubungan internasional berupa kerjasama maupun konflik antarnegara. Kekuatan dalam penerapannya dibagi menjadi tiga tipe, yaitu hard power, soft power, dan smart power. Kekuatan sebuah negara sangat diperlukan dan harus dimiliki karena
dengan kekuatan tersebut negara dapat mencapai tujuan nasionalnya dan
mempengaruhi di bidang politik, budaya dan ekonomi terhadap aktor-aktor
hubungan internasional; negara-negara di sekitarnya. Cina adalah sebuah negara yang terletak di Asia Timur yang beribukota di
Beijing. Cina memiliki jumlah penduduk terbanyak di dunia sejumlah
1.367.485.388 miliar jiwa dengan luas wilayah 9,69 juta km². Cina merupakan salah satu negara super power potensial ke-2 di dunia setelah Rusia. Aksara Cina memberi pengaruh besar pada penulisan aksara Jepang yang disebut kanji dan aksara Korea yang disebut hanja dan industri hiburan Korea Selatan dipengaruhi oleh investasi dari Cina sekitar Rp13 triliun. Negara Cina pernah memanfaatkan hard power-nya saat menginvasi Vietnam dalam perebutan wilayah di Spratly Island.
Cina berpotensi menjadi negara adidaya yang mampu menyaingi Amerika Serikat memiliki keistimewaan tersendiri selain jumlah penduduknya yang berada di peringkat pertama dan wilayahnya luas. Konsumsi sumber daya alam Cina jauh melampaui konsumsi sumber daya alam negara-negara lain. Cina menjadi konsumen bahan baku primer seperti bahan bangunan, bijih besi, bahan bakar fosil, dan biomas terbesar di dunia disebabkan pertumbuhan ekonomi Cina yang dominan. Pertumbuhan ekonomi Cina yang pesat memicu urbanisasi besar-besaran puluhan juta warga pedesaan ke kota-kota besar untuk mendapatkan pekerjaan. Berdasarkan data PBB, jumlah pusat-pusat perkotaan dengan populasi lebih dari satu jiwa atau lebih meningkat dari 16 pada tahun 1970 menjadi 106 pada tahun 2015. Walaupun perekonomian Cina masih di bawah Amerika Serikat, tetapi pertumbuhan ekonominya membuat Cina berada di atas negara-negara maju Eropa dan Jepang. Cina menggunakan kekuatan ekonominya untuk memperkuat ketahanan energi (energy security) negara mereka ke depan. Cina sebagai importir minyak terbesar dunia mempengaruhi kesepakatan dan penentuan harga-harga minyak global. Kekuatan ekonomi Cina menarik negara lain sepeti Pemerintah Malaka bekerja sama dengan Cina untuk meningkatkan peluang Malaka dicantumkan dalam peta ekonomi dan perdagangan "Jalur Sutra Maritim Abad Ke-21'
Pertumbuhan ekonomi Cina ini memberi dampak kepada lingkungan, dengan tingkat polusi yang memburuk dan sebagian besar disebabkan oleh pembangkit listrik tenaga batu bara yang menjadi andalan bagi kebutuhan energinya. Bahkan dalam sejarahnya polusi udara Cina, pemerintah ibukota Cina, Beijing mengeluarkan peringatan merah pertama. Peringatan merah adalah yang tertinggi dalam sistem peringatan 4 tingkat negara. Ini hanya dikeluarkan setelah kabut polusi yang parah diperkirakan akan berlangsung lebih dari 72 jam. Pemerintah Beijing pun sudah berupaya untuk mengurangi polusi dengan menuutup ribuan pabrik yang menggunakan sumber energi batu bara. Hanya delapan dari 74 kota di Cina yang memenuhi standar kualitas udara tahun 2014 sesuai dengan laporan Kementerian Lingkungan.
Di bidang militer, Cina menjadi negara terbesar ketiga pengekspor senjata dunia menggantikan posisi Jerman. Selama periode 2010-2014, ekspor senjata Cina meningkat 143% dibandingkan 5 tahun lalu sebelumnya saat Cina masih berada di peringkat 9 dunia. Tahun 2014, dana pembelanjaan militer meningkat sebesar 12,3% atau US$188 miliar. Cina memiliki peralatan militer yang lebih banyak dan 2,3 juta personel yang masih aktif. Menurut Global Firepower Index, Cina menempati urutan ketiga kekuatan militer terbesar ke tiga di dunia setelah Rusia dan Amerika Serikat.
Dalam hal kepariwisataan, Cina berada di peringkat pertama dari jumlah pengeluaran selama masa liburan, yaitu sebesar US$165 miliar.
Terlepas dari kehebatannya di bidang militer, ekonomi, dan pariwisatanya, Cina dikenal agak nyeleneh dengan trennya yang diikuti orang-orang seperti memakai aksesoris rambut berbentu tanaman, berfoto dengan kertas A4 untuk memamerkan lingkar pinggang yang kecil, memfoto kaki yang ditutup IPhone 6 untuk menunjukkan kaki yang lurus, dan yang terbaru adalah memfoto pergelangan tangan yang dibalut uang 100 yuan berukuran 155 mm x 77 mm, tren ini terkenal di kalangan perempuan Cina yang menyebar melalui media sosial Cina, Weibo. Selain itu, Cina juga lihai dalam membuat produk replika mulai dari kualitas hampir mirip aslinya hingga kualitas rendah dengan harga murah. Cina dapat mereplika ikon dunia dari Mesir ke Eropa. Saking miripnya replika Patung Spinx, pihak Mesir mengajukan protes pada UNESCO.
Sejarah Cina dikuasai oleh Jepang (1937)
Setelah Restorasi Meiji (1868), Jepang tumbuh dan berkembang pesat menjadi negara besar dan modern hingga ditakuti dunia, terutama negara-negara imperialis Barat. Kepadatan penduduk, pembatasan imigras bangsa Jepang yang dijalankan oleh negara-negara lain, industrialisasi dan sebagainya mendorong Jepang tumbuh menjadi negara imperialis di Asia. Tujuan imperialisme Jepang adalah untuk menciptakan "lebensraum" Jepang, yakni menjadikan Asia bahkan dunia di bawah kekuasaan Jepang. Sejalan dengan tujuan tersebut, Jenderal Baaron Tanaka Giichi membuat sebuah pernyataan yang kemudian dikenal dengan "Memori Tanaka" atau "Rencana Tanaka". Jepang mempunyai alasan kepentingan menginvasi Cina karena daerah Cina yang luas dapat mengatasi kepadatan penduduk di Jepang. Kemudian, Cina memiliki minyak dan batubara melimpah yang sangat dibutuhkan oleh industri Jepang. Di samping itu, Cina dapat dijadikan sebagai daerah pasaran hasil industrinya, dan apabila Cina dikuasai, penduduknya yang besar itu dapat dieksploitasi sebagai tenaga perang untuk menguasai dunia. Setelah mencaplok Manchuria (1932), Tanaka terus berusaha menguasai Cina. Peluang untuk melancarkan serangan ke Cina cukup besar, karena Jepang telah menguasai wilayah Cina Utara dan mendirikan pemerintahan otonomi di wilayah tersebut.
Seperti pada peristiwa Mukden di Manchuria, Jepang juga menciptakan insiden sebagai alasan untuk memasuki Cina dikenal dengan 'insiden jembatan Marco Polo'. Insiden ini ditandai dengan suatu pertempuran kecil antara Cina dan Jepang di Lukouchio, sekitar jembatan Marco Polo pada 7 Juli 1937. Insiden ini kemudian berkembang menjadi perang antara Cina dan Jepang. Secara garis besar, perang antara Cina dan Jepang ini terbagi menjadi tiga fase yaitu:
Hubungan diplomatik antara Cina dan Indonesia telah berjalan 65 tahun lamanya. Hubungan diplomasi yang terjalin diantara keduanya merupakan komitmen nyata kebijakan luar negeri Indonesia yang bebas dan aktif dalam konstelasi perang dingin kala itu. Era Soekarno menjadi tonggak penting hubungan persahabatan Indonesia-Cina. Kedua negara tersebut sepakat untuk mempererat hubungan yang telah berjalan baik ditandai dengan ditandatanganinya perjanjian persahabatan serta persetujuan kerja sama kebudayaan pada 1 April 1961. Dalam konteks hubungan luar negeri yang lebih luas, Indonesia amat penting bagi Cina yang saat itu bukan anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Keduanya menjalin suatu kemitraan dalam membangun solidaritas di antara negara-negara New Emerging Forces (NEFO). Namun, pada 30 Okober 1967 kedua negara membekukan hubungan. 22 tahun kemudian pada 24 Februari 1989, Presiden Soeharto bertemu dengan Qian Qichen, Menteri Luar Negeri Cina membahas kemungkinan normalisasi hubungan diplomatik kedua negara yang tengah membeku. Pembahasan permasalah dilanjutkan dalam pertemuan Menlu Ali Alatas dan Qian Qichen pada 4 Oktober 1989 di Tokyo yang menghasilkan penandatanganan Komunike Bersama "The Resumption od Diplomatic between The Two Countries" tanggal 3 Juli 1990 di Beijing, diikuti kunjungan Perdana Menteri Li Peng ke Indonesia sekaligus menyaksikan penandatanganan nota kesepahaman Pemulihan Hubungan Diplomatik kedua negara pada 8 Agustus 1990.
Pada era Presiden Soeharto, normalisasi hubungan Indonesia-Cina pada awal 1990-an amat bernilai bagi Cina yang saat itu dikecam Barat setelah peristiwa Tiananmen. Presiden Soeharto pun melakukan kunjungan balasan pada 14-18 November 1990 dan menyaksikan penandatanganan pembentukan Komisi Bersama Bidang Ekonomi, Perdagangan, dan Kerja Sama Teknik. Normalisasi hubungan tersebut membuka hubungan ASEAN dan Cina, hingga 1996 Cina menjadi mitra dialog penuh ASEAN. Interaksi kedua negara dilanjutkan pada era Presiden Abdurrahman Wahid. Imlek ditetapkan sebagai hari libur nasional, beragam atribut dan simbol berbau Cina mulai bermunculan di Indonesia. Selanjutnya pada era Megawati, kedua negara sepakat membentuk forum energi yang menjadi payung investasi Cina di Indonesia di bidang energi. Pencapaian tersebut dikelola baik oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, ditandatanganinya Kemitraan Strategis pada 25 April 2005 yang kemudian ditingkatkan menjadi Kemitraan Komprehensif pada Oktober 2013, sehingga hubungan politik, pertahanan, keamanan, ekonomi dan sosial-budaya meningkat. Era Presiden Jokowi, Indonesia dan Cina menyinergikan ide Poros Maritim Dunia milik Indonesia dengan Jalur Sutra Maritim milik Tiongkok.
Hubungan Jerman dan Cina berjalan dengan erat selama 40 tahun lebih. Di awali dengan seekor panda bernama BaoBao yang menjadi hadiah dari pemimpin Cina, Hua Guofeng kepada Jerman saat Kanselir Helmut Schmidt mengunjungi Cina di tahun 1980. Hubungan yang erat ini dapat dilihat dengan digelarnya konsultasi pemerintah. Jerman merupakan mitra dagang penting bagi Cina di Eropa. Sebaliknya, Cina merupakan mitra dagang Jerman terbesar kelima dan setelah Amerika Serikat, kedua terbesar di luar Eropa.
Belakangan ini hubungan diplomatik Cina dan Taiwan kian mesra dan kerja sama antarkeduanya makin meningkat. Presiden Cina, Xi Jinping dan Presiden Taiwan Ma Ying- jeou akan bertemu untuk pertama kalinya sejak kedua negara berpisah lebih dari 60 tahun lalu, statusnya masih bertikai sampai sekarang. Sebelumnya, pertemuan antara pemimpin Taiwan dan Cina terjadi tahun 1945. Ketua Kuomintang Chiang Kai-sek bertemu dengan pemimpin Partai Komunis Mao Zedong usai berakhirnya penjajahan Jepang di akhir Perang Dunia II. Tahun 1949, Taiwan memisahkan diri dari Cina. Dalam sejarahnya, hubungan Cina-Taiwan sangat buruk penuh dengan konflik-konflik kecil yang dikhawatirkan akan menjadi perang terbuka. Apalagi banyak pihak di Taiwan yang mendesak deklarasi kemerdekaan. Namun, Cina pada tahun 2005 telah menerbitkan undang-undang yang berisikan ancaman aksi militer jika Taiwan mengumumkan merdeka. Tapi dalam 20 tahun terakhir, hubungan keduanya mulai membaik. Walau secara diplomatis berseteru, tapi dalam bidang ekonomi keduanya akrab terutama setelah Ma Ying-jeou memimpin di tahun 2008.
Hubungan diplomatik Cina dan Jepang terjalin hampir 40-an tahun. Namun, pada peringatan hubungan diplomatik ke-40 pada 27 September ditangguhkan karena sengketa wilayah. Konflik Kepulauan Senkaku. Pertikaian yang menyangkut pulau-pulau tersebut terjadi sejak tahun 70-an. Ketegangan semakin meningkat setelah pemerintah Jepang membeli tiga pulau dari pemiliknya yang warga swasta.
Semoga artikel ini dapat menambah wawasan pembaca mengenai kekuatan negara Cina yang berpotensi sebagai negara adidaya yang mampu menyaingi Amerika Serikat. Saya harap pembaca meninggalkan sebuah komentar agar tulisan ini menjadi lebih baik lagi! Terimakasih!
Sumber referensi:
N.N http://www.infoplease.com/world/statistics/most-populous-countries.html (diakses Jumat, 8 April 2016 pukul 12.48 WIB) | source CIA World Factbook Pertumbuhan ekonomi Cina ini memberi dampak kepada lingkungan, dengan tingkat polusi yang memburuk dan sebagian besar disebabkan oleh pembangkit listrik tenaga batu bara yang menjadi andalan bagi kebutuhan energinya. Bahkan dalam sejarahnya polusi udara Cina, pemerintah ibukota Cina, Beijing mengeluarkan peringatan merah pertama. Peringatan merah adalah yang tertinggi dalam sistem peringatan 4 tingkat negara. Ini hanya dikeluarkan setelah kabut polusi yang parah diperkirakan akan berlangsung lebih dari 72 jam. Pemerintah Beijing pun sudah berupaya untuk mengurangi polusi dengan menuutup ribuan pabrik yang menggunakan sumber energi batu bara. Hanya delapan dari 74 kota di Cina yang memenuhi standar kualitas udara tahun 2014 sesuai dengan laporan Kementerian Lingkungan.
Di bidang militer, Cina menjadi negara terbesar ketiga pengekspor senjata dunia menggantikan posisi Jerman. Selama periode 2010-2014, ekspor senjata Cina meningkat 143% dibandingkan 5 tahun lalu sebelumnya saat Cina masih berada di peringkat 9 dunia. Tahun 2014, dana pembelanjaan militer meningkat sebesar 12,3% atau US$188 miliar. Cina memiliki peralatan militer yang lebih banyak dan 2,3 juta personel yang masih aktif. Menurut Global Firepower Index, Cina menempati urutan ketiga kekuatan militer terbesar ke tiga di dunia setelah Rusia dan Amerika Serikat.
![]() |
| Replika ikon negara Perancis yang dibuat oleh Cina; (kiri) replika |
Sejarah Cina dikuasai oleh Jepang (1937)
Setelah Restorasi Meiji (1868), Jepang tumbuh dan berkembang pesat menjadi negara besar dan modern hingga ditakuti dunia, terutama negara-negara imperialis Barat. Kepadatan penduduk, pembatasan imigras bangsa Jepang yang dijalankan oleh negara-negara lain, industrialisasi dan sebagainya mendorong Jepang tumbuh menjadi negara imperialis di Asia. Tujuan imperialisme Jepang adalah untuk menciptakan "lebensraum" Jepang, yakni menjadikan Asia bahkan dunia di bawah kekuasaan Jepang. Sejalan dengan tujuan tersebut, Jenderal Baaron Tanaka Giichi membuat sebuah pernyataan yang kemudian dikenal dengan "Memori Tanaka" atau "Rencana Tanaka". Jepang mempunyai alasan kepentingan menginvasi Cina karena daerah Cina yang luas dapat mengatasi kepadatan penduduk di Jepang. Kemudian, Cina memiliki minyak dan batubara melimpah yang sangat dibutuhkan oleh industri Jepang. Di samping itu, Cina dapat dijadikan sebagai daerah pasaran hasil industrinya, dan apabila Cina dikuasai, penduduknya yang besar itu dapat dieksploitasi sebagai tenaga perang untuk menguasai dunia. Setelah mencaplok Manchuria (1932), Tanaka terus berusaha menguasai Cina. Peluang untuk melancarkan serangan ke Cina cukup besar, karena Jepang telah menguasai wilayah Cina Utara dan mendirikan pemerintahan otonomi di wilayah tersebut.
Seperti pada peristiwa Mukden di Manchuria, Jepang juga menciptakan insiden sebagai alasan untuk memasuki Cina dikenal dengan 'insiden jembatan Marco Polo'. Insiden ini ditandai dengan suatu pertempuran kecil antara Cina dan Jepang di Lukouchio, sekitar jembatan Marco Polo pada 7 Juli 1937. Insiden ini kemudian berkembang menjadi perang antara Cina dan Jepang. Secara garis besar, perang antara Cina dan Jepang ini terbagi menjadi tiga fase yaitu:
- Tahap I: Antara bulan Juli sampai Desember 1937, tentara Jepang bergerak cepat menduduki posisi utama Cina Utara dan merebut ibukota Nanking. Jatuhnya Nanking diharapkan melumpuhkan pertahanan Cina dan segera mengakhiri perang. Akan tetapi Chiang Kai-sek segera memindahkan ibukota ke Hankow dan bertahan di sana.
- Tahap II: Operasi Jepang diarahkan untuk merebut Hankow dan Kanton. Kota tersebut jatuh dalam bulan Oktober 1938. Namun kembali Chiang memindahkan ibukota ke Chungking.
- Tahap III: Pihak Jepang menemui jalan buntu. Tentara Jepang tidak dapat menundukkan pasukan Cina yang mengadakan perlawanan secara gerilya. Sesudah tahun 1938, Jepang menduduki kota-kota besar serta jalur kereta api Cina, akan tetapi secara sporadis pertempuran kecil dengan gerilyawan Cina yang menguasai daerah pedalaman tetap terjadi.
Hubungan diplomatik antara Cina dan Indonesia telah berjalan 65 tahun lamanya. Hubungan diplomasi yang terjalin diantara keduanya merupakan komitmen nyata kebijakan luar negeri Indonesia yang bebas dan aktif dalam konstelasi perang dingin kala itu. Era Soekarno menjadi tonggak penting hubungan persahabatan Indonesia-Cina. Kedua negara tersebut sepakat untuk mempererat hubungan yang telah berjalan baik ditandai dengan ditandatanganinya perjanjian persahabatan serta persetujuan kerja sama kebudayaan pada 1 April 1961. Dalam konteks hubungan luar negeri yang lebih luas, Indonesia amat penting bagi Cina yang saat itu bukan anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Keduanya menjalin suatu kemitraan dalam membangun solidaritas di antara negara-negara New Emerging Forces (NEFO). Namun, pada 30 Okober 1967 kedua negara membekukan hubungan. 22 tahun kemudian pada 24 Februari 1989, Presiden Soeharto bertemu dengan Qian Qichen, Menteri Luar Negeri Cina membahas kemungkinan normalisasi hubungan diplomatik kedua negara yang tengah membeku. Pembahasan permasalah dilanjutkan dalam pertemuan Menlu Ali Alatas dan Qian Qichen pada 4 Oktober 1989 di Tokyo yang menghasilkan penandatanganan Komunike Bersama "The Resumption od Diplomatic between The Two Countries" tanggal 3 Juli 1990 di Beijing, diikuti kunjungan Perdana Menteri Li Peng ke Indonesia sekaligus menyaksikan penandatanganan nota kesepahaman Pemulihan Hubungan Diplomatik kedua negara pada 8 Agustus 1990.
Pada era Presiden Soeharto, normalisasi hubungan Indonesia-Cina pada awal 1990-an amat bernilai bagi Cina yang saat itu dikecam Barat setelah peristiwa Tiananmen. Presiden Soeharto pun melakukan kunjungan balasan pada 14-18 November 1990 dan menyaksikan penandatanganan pembentukan Komisi Bersama Bidang Ekonomi, Perdagangan, dan Kerja Sama Teknik. Normalisasi hubungan tersebut membuka hubungan ASEAN dan Cina, hingga 1996 Cina menjadi mitra dialog penuh ASEAN. Interaksi kedua negara dilanjutkan pada era Presiden Abdurrahman Wahid. Imlek ditetapkan sebagai hari libur nasional, beragam atribut dan simbol berbau Cina mulai bermunculan di Indonesia. Selanjutnya pada era Megawati, kedua negara sepakat membentuk forum energi yang menjadi payung investasi Cina di Indonesia di bidang energi. Pencapaian tersebut dikelola baik oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, ditandatanganinya Kemitraan Strategis pada 25 April 2005 yang kemudian ditingkatkan menjadi Kemitraan Komprehensif pada Oktober 2013, sehingga hubungan politik, pertahanan, keamanan, ekonomi dan sosial-budaya meningkat. Era Presiden Jokowi, Indonesia dan Cina menyinergikan ide Poros Maritim Dunia milik Indonesia dengan Jalur Sutra Maritim milik Tiongkok.
Hubungan Jerman dan Cina berjalan dengan erat selama 40 tahun lebih. Di awali dengan seekor panda bernama BaoBao yang menjadi hadiah dari pemimpin Cina, Hua Guofeng kepada Jerman saat Kanselir Helmut Schmidt mengunjungi Cina di tahun 1980. Hubungan yang erat ini dapat dilihat dengan digelarnya konsultasi pemerintah. Jerman merupakan mitra dagang penting bagi Cina di Eropa. Sebaliknya, Cina merupakan mitra dagang Jerman terbesar kelima dan setelah Amerika Serikat, kedua terbesar di luar Eropa.
![]() |
| Ketua Kuomintang Chiang Kai-sek bertemu dengan pemimpin Partai Komunis Zao Zedong |
Hubungan diplomatik Cina dan Jepang terjalin hampir 40-an tahun. Namun, pada peringatan hubungan diplomatik ke-40 pada 27 September ditangguhkan karena sengketa wilayah. Konflik Kepulauan Senkaku. Pertikaian yang menyangkut pulau-pulau tersebut terjadi sejak tahun 70-an. Ketegangan semakin meningkat setelah pemerintah Jepang membeli tiga pulau dari pemiliknya yang warga swasta.
Semoga artikel ini dapat menambah wawasan pembaca mengenai kekuatan negara Cina yang berpotensi sebagai negara adidaya yang mampu menyaingi Amerika Serikat. Saya harap pembaca meninggalkan sebuah komentar agar tulisan ini menjadi lebih baik lagi! Terimakasih!
AULIA SURYA PUTRI D.
15430022
(Tugas UTS Pengantar Hubungan Internasional)
Sumber referensi:
N.N. 2016. Cina dan Perekonomian Global 2016. http://www.republika.co.id/berita/koran/teraju/16/01/15/o0zi977-cina-dan-perekonomian-global-2016 (diakses Jumat, 8 April 2016 pukul 19.48 WIB)
Sofia, Maya dan Puspitasari, Rintan. 4 Pengaruh Besar China di Industri Hiburan Korea Selatan. http://life.viva.co.id/news/read/739337-4-pengaruh-besar-china-di-industri-hiburan-korea-selatan (diakses Jumat, 8 April 2016 pukul 20.53 WIB)
Utami, Rini. 2015. Hubungan Indonesia-Tiongkok: Dari Soekarno hingga Jokowi. http://www.antaranews.com/berita/490460/hubungan-indonesia-tiongkok-dari-soekarno-hingga-jokowi (diakses Sabtu, 9 April 2016 pukul 18.44 WIB)
Von Hein, Matthias. 2012. Hubungan Jerman-Cina Bukan Sekadar Diplomasi Panda. http://www.dw.com/id/hubungan-jerman-cina-bukan-sekedar-diplomasi-panda/a-16199700. (diakses Sabtu, 9 April 2016 pukul 19.39 WIB)
Armandhanu, Denny. 2015. Menengok Hubungan Taiwan-Cina: Musuh Tapi Mesra. http://www.cnnindonesia.com/internasional/20151105135044-113-89679/menengok-hubungan-taiwan-china-musuh-tapi-mesra/ (diakses Sabtu, 9 April 2016 pukul 19.56 WIB)
N.N. 2016. 10 Foto Bukti Kehebatan Cina Bikin Replika Bangunan Negara Lain. http://www.hotmagz.com/2016/01/10-foto-bukti-kehebatan-negara-china.html (diakses Sabtu, 9 April 2016 20.00 WIB)
Meyanie21. 2016. Trend Aneh Cewek-Cewek di Cina yang Sebaiknya Gak Daiikutin (Hot Thread Kaskus) http://www.kaskus.co.id/thread/57065eddc2cb17cf348b4569/kaskus.co.id/?utm_source=facebook&utm_medium=internalpost&utm_campaign=hotthread (diakses Sabtu, 9 April 2016 pukul 20.35 WIB)
Marboen, Ade. 2012. 40 Tahun Hubungan http://www.antaranews.com/berita/334774/40-tahun-hubungan-diplomatik-jepang-china-ditangguhkan (diakses Sabtu, 9 April 2016 pukul 21.59 WIB)
VOA Indonesia. 2015. Peringatan Merah Pertama dalam Sejarah Polusi Udara. (diakses Minggu, 10 April 2016 pukul 01.00 WIB)
Hijauku. 2013. Konsumsi SDA China No.1 di Dunia. http://www.hijauku.com/2013/08/04/konsumsi-sda-china-no-1-di-dunia/ (diakses Minggu, 10 April 2016 pukul 10.33 WIB)
N.N. 2015. Transformasi Ekonomi Cina dalam Grafik. http://www.bbc.com/indonesia/majalah/2015/09/150906_majalah_cina (diakses Minggu, 10 April 2016 pukul 10.40 WIB) | Data oleh Christine Jeavans, rancangan oleh Salin Qurashi dan James Offer. Naskah oleh Helier Cheung dan pengembangan situs oleh Marcelo Zanni.
Ervianto, Toni. 2015. Mengukur Kekuatan Tiongkok Alias Cina: Calon 'Bos' Dunia. http://news.detik.com/kolom/2936068/mengukur-kekuatan-tiongkok-alias-china-calon-bos-dunia (diakses Minggu, 10 April 2016 pukul 11.24 WIB)
Surya, Bagus. 2012. Kekuatan Nasional dalam Hubungan Internasional. http://bagus_surya-fisip12.web.unair.ac.id/artikel_detail-61507-Pengantar%20Ilmu%20Hubungan%20Internasional-Kekuatan%20Nasional%20dalam%20Hubungan%20Internasional.html (diakses Minggu, 10 April pukul 12.48 WIB)







Ternyata kekuatan china sangat besar ya, baru tau juga, kalo china memberikan investasi untuk dunia hiburan korea selatan, semoga saja hubungan antar Indonesia-China tidak terlalu merugikan Indonesia karna kita tau bahwa harga-harga barang dari china lebih murah daripada barang yg berasal dari Indonesia sendiri. Mau tanya nih, menurut kakak, bagaimana caranya untuk mengatasi agar industri di Indonesia tidak mati akibat banyaknya barang dari china yg masuk ke Indonesia dengan harga relatif murah ini???
BalasHapusKarena itulah ada drama Korea yang mengandung konten sensitif mengenai Cina perlu diedit/disaring ^^ Well, soal itu kembali pada produsen Indonesia apakah mereka mampu membuat produk yang sama dan menyaingi produk Cina. Caranya adalah revolusi mental dari diri sendiri, bagaimana kita harus mempunyai rasa bangga terhadap produk Indonesia itu sendiri. Lalu lebih berinovasi dalam menciptakan produk. Namun, jika tetap saja produk Indonesia tidak banyak peminatnya, kembali lagi dengan permasalahan 'cinta Indonesia' dalam diri kita sendiri. Terimakasih ^^
HapusNegara China merupakan negara dengan produksi terbesar ke-2 di dunia setelah amerika serikat. dengan pemerintah yang kreatif dan produktif, negara tersebut mampu memajukan negaranya hingga banyak hasil produksi yang diproduksi negara tersebut. bagaimana menurut anda kualitas barang2 yg diimpor dari China ke Indonesia? apakah kualitas barang2 Indonesia bisa mengalahkan kualitas barang2 dari China? makasih ^^
BalasHapusSoal kualitas saya tidak tahu tolok ukur kualitas bagus buatan Cina seperti apa karena itu penilaian subjektif ya. Buat saya, walaupun kualitas Cina bagus tetapi tidak awet dan kebanyakan replika :/ Tentu saja bisa. Banyak kok produk Indo yang bagus seperti produk dari Maspion. Terimakasih ^^
HapusAlthough I'm not an IR student, but I'm an IR enthusiast!
BalasHapusSenang bisa membaca pembahasan tentang Tiongkok, karena Tiongkok sekarang jadi bidak utama percaturan ekonomi, politik dan militer dunia, terutama perannya di sekitar Asia Tenggara.
Sepak terjang Tiongkok sendiri nggak bisa diremehkan, ya, terutama dengan menguatnya tensi di sekitar Laut Tiongkok Selatan baru-baru ini. Mungkin akan lebih menarik dan mendalam jika kamu menambahkan beberapa poin lagi tentang 'permainan' Tiongkok di LTS dan sekitarnya? Misalnya ya yang baru-baru ini, yang bermasalah sama Indonesia sampai Menteri Susi turun tangan? But this is okay, pembahasan politik terbaru digabungkan dengan sejarah, why not?
Satu hal yang paling aku tunggu-tunggu sih perbaikan hubungan Tiongkok dan Taiwan, dan turbulensi politik yang terjadi karena pro dan kontranya. Walau belum banyak hal terjadi, apalagi presiden perempuan pertama Taiwan itu baruuu saja naik tahta, kayaknya bisa jadi catatan kita bersama.
Terima kasih atas bacaannya! o/
Baik, terimakasih atas sarannya yang membangun ^^ Sebenarnya saya mau menambahkan permasalahan LTS yang sedang terjadi belakangan ini. ^^a Wah, saya justru baru tahu mengenai presiden pertama di Taiwan :o Sama-sama menambah ilmu! Terimakasih sudah berkunjung ^^
Hapuswah mantep yah cina teh :'DDDD
BalasHapusBahkan dalam sejarahnya polusi udara Cina, pemerintah ibukota Cina, Beijing mengeluarkan peringatan merah pertama.
--di bagian ini agak janggal. 'pemerintah ibukota Cina, Beijing' seolah beijing itu pemerintahnya ibukota cina :'DD agak rancu sih di kalimat ini
ya pokoknya dapet bangetlah informasi ini!
Iya, bahkan di berita polusi udaranya pekat hitam dilihat dari lantai 103/109 gedung Beijing. Belum lagi polusi airnya. Iya juga ya ^^a terimakasih kritiknya ^^
HapusTiongkok memang mempunyai banyak potensi untuk menyusul negara Amerika Serikat, bahkan pernah dijuluki sebagai negara Adikuasa kedua. Thx, Aulia!! ^^
BalasHapusIya, begitulah Rhea ^^
HapusTiongkok itu keren menurut saya. Perkembangan ekonomi disana sangat maju, pemerintah Tiongkok juga membebaskan warganya untuk berwiraswasta. Negeri Tirai Bambu ini mulai membuka tirainya dan menjadi pesaing AS yang berkompeten. Bahkan saya dengar kalau beberapa produk kece seperti apple, nike, dll juga membuka pabrik produksi di Tiongkok untuk menekan biaya shippin dan produksi untuk konsumsi di Asia. Sayang, meskipun terkenal dengan perekonomiannya, kesenjangan sosial-ekonomi di Tiongkok juga masih sangat tinggi, tingkat polusi di Tiongkok juga bukan isapan jempol.
BalasHapusNah memang Tiongkok diprediksi bisa menggantikan AS sebagai negara adikuasa. Nah menurut penulis, sebagai mahasiswa HI, apakah bisa? Apa saja yang mungkin menjadi ancaman Tiongkok? Sekedar intermezzo, pusat tatasurya kita bukan lagi bumi, bukan lagi matahari, tetapi Amerika loh.. kwkwkwk
semangat menulis lagi Aulia, ditunggu post selanjutnya~
Tentu bisa melihat perekonomian Cina yang semakin pesat dan Cina juga memegang kendali perekonomian di Asia. Ancaman bagi Tiongkok ada beberapa seperti sistem pertahanan rudal Amerika-Korsel, aksi kapal perang AS di dekat kepulauan buatan dll. Semoga jawabannya sesuai dengan yang diinginkan ya ^^a masih belajar soalnya hehehe
HapusKomentar ini telah dihapus oleh administrator blog.
BalasHapus